Senin, 15 Desember 2014

Posted by Unknown On 20.43
SETIAP bulan Agustus, pada tanggal 17, atau menjelang tanggal tersebut, kita bangsa Indonesia mencari berbagai cara untuk memeriahkan hari kemerdekaan kita. Berbagai acara lomba digelar, baik lomba yang mendidik, lomba olahraga persahabatan, kejuaraan, maupun lomba untuk sekedar memeriahkan. Dan ketika itu, lomba panjat pinang adalah salah satu yang paling ditunggu-tunggu dan yang paling meriah.

Benarkah panjat pinang hanya sekedar lomba ringan semata yang tujuannya untuk menghibur, ataukah ada filosofi lain di balik itu. Menurut tulisan Erlinda di Kompasiana, yang berjudul Salah Kaprah 17 Agustus, tanggal 23 Juli 2010 lalu, ada salah kaprah dalam dalam perayaan tujuh belas agustus dengan acara lomba panjat pinang ini. “… Tapi panjat pinang itu lho, sejarahnya kan sebagai bentuk pelecehan ambtenar Belanda terhadap kaum pribumi, para kuli yang beristirahat di sore hari. Bayangkan! Panjat pinang adalah hiburan gratis untuk para amtenar sementara kaum pribumi diolok karena berebut hadiah di atas pohon. Kok tradisi gila macam ini dibudayakan? Lucunya kita!,” tulis Erlinda.

Di samping itu, di tengah-tengah kemeriahan acara panjang pinang itu pula, ada sesuatu yang menyayat nurani, yaitu pikiran kita akan nasib pohon pinang itu sendiri. Untunglah tahun ini perayaan 17 Agustus betepatan dengan bulan Ramadhan sehingga acara panjat pinang tidak banyak dilaksanakan, sehingga pohon pinang pun bisa terselamatkan untuk sementara waktu.

Kalau tidak, tentu ribuan pohon pinang sudah ditebang tahun ini demi untuk memuaskan selera masyarakat yang haus tontonan Agustusan. Seperti yang diceritakan Pak Suhiri dalam Kompas.com, 4 Agustus 2010, “Untuk tahun ini, penjualan (pohon) pinang agak sepi. Ada yangpesen sebelum bulan puasaTapi sampai hari ini pesenannya baru dua batang,” kata Sahiri saat dijumpai pada Rabu (4/8/2010).

Padahal, setiap tahunnya, paling sedikit Sahiri bisa menjual minimal 25 batang. “Tahun kemarin malah sampai 100 batang karena ada partai yang bikin lomba panjat pinang besar-besaran,” ujarnya. (Kompas.com, 4 Agustus, 2010).

Itu baru cerita dari satu orang Pak Suhiri, di Jakarta. Kalau satu orang Pak Suhiri saja bisa menjual sampai 100 batang, bagaimana kalau ada 10 Pak Suhiri, 1000 Pak Suhiri, atau lebih, tentu ribuan, bahkan ratusan ribu pohon pinang tumbang setiap tahunnya, hanya demi untuk kepuasan sesaat, yang hanya satu hari, kalau tidak mau disebut beberapa jam, untuk memenuhi rasa haus manusia akan hiburan, sedangkan waktu untuk pohon pinang itu tumbuh dewasa hingga siap tebang adalah puluhan tahun.

Kalau keadaannya terus menerus seperti ini, tentu lama kelamaan pohon pinang akan punah dari bumi nusantara ini. Sekarang saja, bahkan di pelosok-pelosok desa pun sudah langka. Hal ini tentu ada hubungannya dengan penebangan besar-besaran setahun sekali itu, sedangkan peremajaan pohon pinang sendiri minim sekali. Jarang sekali orang yang sengaja menanam pohon pinang.

Masuk akal jika lama kelamaan pohon pinang akan punah karena ditebang secara masif setiap tahun, sedangkan waktu yang diperlukan oleh pohon pinang untuk mencapai usia siap dewasa, usia tebangan, adalah sekurangnya 15 tahun.

Sekarang ini pun gejala kemusnahan itu sudah tampak, seperti yang diakui Yandi, salah seorang penjual pohon pinang, warga RT 19, Jl Sungai Tenang, Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, berikut ini, “Sebenarnya banyak Mas, kalau mau dilayani semua pesanan. Tapi, karena sudah sulitnya mencari pohon pinang, maka hanya bisa melayani dua pesanan saja. Ini-pun, batangnya diambil dari depan rumah. Beruntung saja, masih ada empat batang pohon pinang lagi. Jadi dari empat itu, hanya bisa ditebang dua saja. Lainnya, batangnya masih kecil-kecil,” ungkap Yandi kepada koran ini. (Sumatera Ekspres, 5 Agustus 2010).

Seandainya bukan karena naluri sesat manusia akan hiburan tentu pohon pinang tidak akan punah secepat itu.

Hal lain yang mungkin berkontribusi terhadap gejala kemusnahan pohon pinang adalah masalah harga buah pinang yang cenderung merosot sehingga membuat petani pinang merugi, sehingga tidak jarang para petani menjual pohonnya.

Indonesia merupakan salah satu pengekspor pinang terbesar di samping Thailand, Malaysia, Singapura, dan Myanmar. Komoditas yang digunakan untuk bahan obat dan makanan kecil itu diekspor ke Pakistan, Banglades, Nepal, dan India. Harga pinang jatuh sejak India menyebarkan isu bahwa pinang dari Indonesia menyebabkan kanker gusi. Selain itu, India menaikkan bea masuk pinang sampai 15 persen. (KOmpas.com/23 Juli 2010)

Sekarang hal yang sehat dan masuk akal untuk dilakukan adalah memperbaiki mutu buah pinang untuk ekspor agar bisa bersaing dengan produk ekspor dari negara-negara lain, sehingga para petani bergairah mengelola pohon-pohon (kebun) pinang mereka. Hanya dengan demikianlah kita bisa menyelamatkan pohon pinang.

Lupakan filosofi panjat pinang yang katanya untuk menjalin kekompakan,seperi yang ditulis Erlinda, karena, sungguh, untuk menjalin kekompakan tidak hanya dengan panjang pinang. Lupakan panjat pinang sebagai acara untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan RI, karena sesungguhnya masih banyak sekali acara yang bisa diselenggarakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan, selain membabat pohon-pohon dari muka bumi ini.
oleh : Hasim on Saturday, August 14, 2010 
sumber : http://novenrique.blogspot.com
sumber gambar :
gambar 1 :http://data.tribunnews.com/foto/images/preview/20130628_lomba-panjat-pinang-hut-bhayangkara-ke-67_4504.jpg
gambar 2 : https://blog.tokopedia.com/wp-content/uploads/2014/08/53397207-1680x1050.jpg
KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta

Posted by Unknown On 19.59
Ok..disini saya ajak teman-teman untuk menengok apa saja yang sudah, sedang dan akan terjadi pada Bumi beserta semua penghuninya. Semua saya ambil dari banyak sumber dan referensi :

1) Setiap hari sampah kertas di dunia berasal dari 27.000 batang kayu.

2) Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta sampai saat ini kurang lebih 27.966 m3/hari.  Sekitar 25.925 m3 sampah diangkut 757 truk sampah untuk dibawa TPA.  Sisa sampah kurang lebih 2.041 m3menjadi masalah yang menunggu untuk diatasi.  Jika mau dihitung penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur dalam 2 hari dari tumpukan sampah.

3) Data Kementerian Kehutanan menunjukkan laju kerusakan hutan sekitar 700.000 hektare per tahun.

4) UCS : 138 juta metrik ton kayu digunakan untuk kebutuhan pembuatan kertas; lalu 80 juta metrik ton digunakan untuk plywood; penggunaan kayu lainnya menurut catatan dari penelitian ini adalah 362 miliar meter kubik kayu digunakan untuk produksi papan-papan untuk bahan baku rumah dan sekitar 1,4 miliar meter kubik digunakan sebagai bahan bakar kayu untuk pemanas dan mesin.

5) Semenjak 2010 telah terjadi penangkapan besar-besaran terhadap burung jenis Kacamata Sangihe / Pleci ( Zosteropidae / Zosterops nehrkorni ) dan semenjak 2012 masuk dalam jajaran burung "Terancam Punah" atau dalam bahasa ilmiahnya Critically Endangered karena penurunan populasi yang sangat drastis.

5) Setiap hari, diperkirakan bahwa 50-100 spesies flora dan fauna akan punah sebagai akibat dari campur tangan manusia

6) Diperkirakan 80% atau setara dengan 7 buah lapangan sepak bola hutan di bumi telah hancur. Sebanyak 2.000 pohon ditepang setiap harinya di dunia.

7) 75% perikanan dunia telah diambil dair perairan. Tidak hanya air, kemungkinan ikan juga akan punah.

8) Data Kementrian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

9) Tahun 2011 Indonesia masuk dalam daftar Guinness Book of World Records sebagai negara dengan tingkat deforestasi (penyusutan  hutan) tercepat di dunia, dengan tingkat kehilangan lahan hutan sekitar setara 300 kali lapangan sepak bola setiap jamnya. 

10) Tiap 17 Agustus Masyarakat Indonesia menebang puluhan ribu batang pohon pinang untuk acara Panjat Pinang tanpa ada penanaman kembali jenis tanaman ini.(KEREN)

sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV8WHj2554lZhy0obI-3mo9Qf5PK04NNVL2MolQLbM_qFwc4eiEDhJZhEAQ3XPaoYxoNmepeZVXejIzL5LiXV7jzx09xHDZuHR899up42Oa1GJxUoXpBaDpUe_3hbW3h8yEv4uLWJFiZsa/s1600/hutan.jpg 

KOTAPADI FLONA Lereng Merapi Sleman Yogyakarta 
Posted by Unknown On 05.22
Sawo Kecik, Pohon Sarwo Becik Tapi Langka

Sawo Kecik (Manilkara kauki) sering disebut juga Sawo Jawa merupakan tanaman (pohon) penghasil buah dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang kini mulai langka dan jarang ditemukan di Indonesia. Sawo Kecik yang menurut filosofi jawa sering diidentikkan dengan ‘sarwo becik’ (serba baik). Di Yogyakarta kadang dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton.
Tanaman penghasil buah yang batangnya mempunyai kayu yang keras dan kuat sehingga sangat baik untuk bahan bangunan, perabot rumah tangga, alat-alat pertukangan, bahkan dimanfaatkan sebagai benda-benda seni seperti patung, ukir-ukiran bahkan sebagai peralatan musik seperti badan biola dan rebana.


Sawo Kecik disebut juga sebagai Sawo Jawa. Sedangkan dalam bahasa Inggris, tanaman yang mulai langka ini disebut sebagai Caqui dan Manilkara. Di beberapa negara lain disebut Khirni (India), dan Lámút Sida atau Lámút Thai (Thailand). Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin) Sawo Kecik disebut sebagai Manilkara kauki yang bersinonim dengan Mimusops kauki,dan Manilkara kaukii.


Ciri-ciri. Pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki) berukuran sedang dengan tinggi mencapai 25 m. Diameter (garis tengah) batang pohon Sawo Kecik mampu mampu mencapai 100 cm.

Daun-daun Sawo Kecik mengelompok pada bagian ujung batang. Di permukaan bawah daun Sawo Kecik berwarna keputihan dan halus seperti beludru dengan tangkai daun tidak menebal, panjang kelopak daun 7 mm.. Kuncup bunga Sawo Kecik berbentuk bulat telur.
Buah Sawo Kecik berbentuk bulat telur atau bulat telur sungsang berukuran kecil dengan panjang berkisar 3.7 cm. Buah Sawo Kecik mempunyai kulit pembungkus yang sangat tipis namun mudah dikelupas. Buah Sawo Kecik, bila mask mempunyai rasa yang manis dan kadang-kadang terasa sedikit agak sepat.
Habitat dan Persebaran. Sawo Kecik (Manilkara kauki) diperkirakan berasal dari India dan tersebar serta banyak dibudidayakan di kawasan Asia Tropis dan Amerika Tropis. Di Indonesia, Sawo Kecik meskipun sudah mulai langka karena mulai jarang yang membudidayakan namun masih dapat ditemui di seluruh Indonesia kecuali Kalimantan.
Sawo kecik tumbuh subur di daerah pesisir (pantai) yang beriklim kering hingga daerah berketinggian sekitar 500 meter dpl. Pohon langka ini sering ditanam sebagai pohon peneduh, pohon buah (untuk dikonsumsi buahnya), dan sebagai pohon ornament yang biasa ditanam di dekat kuil atau istana.
Di Yogyakarta, Sawo Kecik yang biasa disebut sebagai Sawo Jawa dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton. Bahkan di daerah Bali dan Nusa Tenggara pohon langka ini ditemukan tumbuh liar di pesisir pantai.
Pemanfaatan Pohon sawo Kecik. Meskipun Sawo Kecik merupakan pohon penghasil buah, namun tidak hanya buahnya saja yang dapat dimafaatkan. Batangnya banyak dipergunakan sebagai bahan bangunan, perabot rumah tangga, dan karya-karya seni seperti patung, ukiran, bahkan peralatan musik seperti rebana dan badan biola.


sumber : http://tipspetani.blogspot.com/2013/02/tanaman-sawo-jawa-yang-semakin-langka.html 
sumber gambar :  

gambar 1 : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXU2Cbp-_ACd2byYSL3x8pmt02v7WntEBA6_HCQtS8DIi_VMQxkN0uf9vhNDwMYbAyIwZ-i486i_SNI4cxp9UlZlXmKGIXMFn0Mb2AIrtgmtEFdehBfSAVeug_hTEPP_zC6pSwjcvoGrQ1/s1600/sawo+kecik+dan+buah.JPG
gambar 2 :https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuN56yzJDChuD1l4xqRDqecj22zuNJZ-2QEX_SyIfCCdf2vaNdJD0vJ3rrCmFGXdz9ZHOYz4FP7FvlRpyvsz9xXzNK38PXIy0ZF1FFdawXVyehbGIb0xZ7LmP_q7Wha9KqWNGUZrfBeLA/s1600/sawo.jpg

KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta


Posted by Unknown On 05.15
Embung adalah merupakan tendon air atau waduk berukuran kecil pada lokasi pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dimusim penghujan dan pemanfaatannya pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan masyarakat banyak Teknik pembuatan embung meliputi penentuan tekstur tanah, kemiringan lahan, bentuk, ukuran penggalian tanah, kelapisan tanah, kelapisan plastik, penembokan dan pelapisan kapur. Pembentukan embung pada dasaranya adalah untuk mengairi lahan pertanian terutama pada musim kemarau, manfaat lain dari embung adalah dibidang perikanan yang bisa dijadikan untuk kolam pemeliharaan ikan dan sebagai persediaan minuman ternak maupun untuk keperluan rumah tangga. 

 I. PENDAHULUAN Di Indonesia terdapat dua wilayah agraris yang sangat menonjol, yaitu daerah pertanian dengan ketersediaan air irigasi yang cukup melimpah dan daerah pertanian yang hanya mengharapkan air hujan dari langit yang disebut sawah tadah hujan. Dengan pesatnya pembangunan diberbagai sektor maka memberikan konsekwensi bahwa lahan irigasi semakin lama semakin berkurang dan bahkan banyak berubah fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman. Lahapertanian semacam ini adalah merupakan lahan potensial untuk pertanian yang dapat menghasilkan pangan untuk kehidupan manusia. Untuk itu guna mengganti lahan tersebut maka diperlukan adanya penambahan lahan pertanian baru, pada umumnya untuk lahanpertanian yang baru yang bisa mengganti keadaan seperti ini dalah lahan sawah tadah hujan. Lahan tadah hujan sebenarnya potensial untuk menghasilkan padi, akan tetapi kendalanya adalah adanya factor pembatas yang berupa air, dimana pada musim kemarau petani sangat kesulitan air karena cadangan air terlalu minim, sehingga menyebabkan rendahnya produksi pertanian dan bahkan kadang kala tidak menghasilkan sama sekali karena kekeringan. Untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan membangun jaringan irigasi pada lahan tadah hujan memerlukan biaya yang sangat besar, karena itu perlu diatasi dengan teknologi yang lebih murah dan terjangkau yaitu dengan Teknologi pembuatan Embung 

 II. PENGERTIAN EMBUNG Kata embung menurut beberapa orang berasal dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang secara keseluruhan dapat diartikan suatu tandon air atau waduk kecil dilahan pertanian yang bertujuan untuk menampung kelebihan air hujan dan menggunakannya pada saat musim kemarau untuk berbagai keperluan baik dibidang pertanian maupun rumah tangga. 

 III. TEKNIK PEMBUATAN EMBUNG. 
Teknik pembuatan embung sebenarnya boleh dikatakan sangat sederhana, hanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : 

A. Penentuan Lokasi 

1. Tekstur Tanah. 
• Embung sebaiknya dibuat dilahan dengan tanah bertekstur liat, lempung, liat berlempung dan lempung liat berdebu, agar fungsinya sebagai penampung air dapat terpenuhi. 
• Pada tanah berpasir yang poreus tidak dianjurkan untuk pembuatan embung karena air akan cepatmeresap kedalam tanah dan hilang, dan apabila terpaksa dianjurkan untuk dibuat maka dianjurkan untuk memakai, plastic atau ditembok lapisan luarnya sehingga air tidak merembes. 

 2. Kemiringan lahan. 
• Embung sebaiknya dibuat pada areal pertanian yang bergelombang dengan kemiringan antara 20- 30 persen agar lapisan air permukaan dapat dengan mudah mengalir kedalam embung dan selanjutnya air embung mudah untuk disalurkan kepetak-petak pertanian, karena adanya perbedaan ketinggian antara embung dengan petak pertanian. 
• Areal pertanian yang datar kurang cocok untuk dibuat embung , karena sulit untuk mengalirkan air dari embung kepetak pertanian. 
• Pada lahan yang terlalu miring kurang lebih 30 persen embung akan cepat penuh dengan endapan tanah karena pengaruh erosi 

B. Kontrusksi embung 

1. Bentuk Embung. 
• Bentuk embung sebaiknya bujur sangkar atau mendekati bujur sangkar hal ini agar diperoleh keliling yang paling pendek. Tujuannya agar resapan air melalui tanggul lebih sedikit.

2. Ukuran embung. 
• Embung bisa dibuat berdasarkan perorangan maupun kelompok, hal ini tergantung dari pada keperluan dan luas pertanian yang akan di air

3. Penggalian Tanah. 
• Penggalian tanah dapat dimulai dari batas pinggir embung menuju ke bagian tengah. 
• Kedalam galian diusahakan mencapai 2-3 meterhal ini untuk memperoleh kapasitas embung 
• Keliling embung dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah hal ini untuk menghindari masuknya kotoran kedalam embung 
• Jarak saluran pembuangan dari permukaan tanggul berkisar antara 25-50 cm dan dibuat sedemikian rupa sehingga air embung tidak meluap. 

4. Pelapisan tanah.
 • Untuk menjaga agar embung tidak bocor maka perlu dilakukan pelapisan tanah terutama pada bagian dinding embung. Pelapisan dinding ini dilakukan dengan cara; Tanah liat dibasahi dan diolah sampai berbentuk seperti pasta, baru kemudian dilapiskan secara merata. 
• Dinding embung pada tanah bertekstur liat atau lempung liat berdebu tidak perlu dilapisi, karena pada jenis tanah ini resapan air boleh dikatakan kurang.
• Pada tanah berpasir resapan air kebawah maupun yang melalui tanggul cukup banyak, karena itu dinding embung perlu dilapisi dengan beberapa bahan misalnya, plastic, batu bata, tembok, atau campuran pasir dengan tanah liat untuk penahan resapan air. 5. Pelapisan Plastik. 
• Plastik yang digunakan untuk pelapisan dinding maupun dasar embung dapat digunakan dari jenis polyethilin atau polyvinil Chloride (PVC) dengan ketebalan 0, 15 mm 
• Untuk pelapisan didasar embung , plastic ditimbun tanah setebal kurang lebih 25 cm 
• Ketahan plastik ini bisa mencapai 2-3 tahun. 6. Penembokan. 
• Pencegahan peresapan air selain dengan plastic dapat pula digunakan dengan penembokan baik untuk dinding maupun untuk dasar embung. 7. Pelapisan Kapur. 
• Untuk pelapisan dengan kapur dibuat adonan dengan perbandingan kapur tembok dan tanah liat 1:1 • Dibuat pasta yang selanjutnya baru dilapiskan. Pada dinding embung atau dasar embung. 

 IV. MANFAAT EMBUNG. 

1. Air Embung Pada prinsipnya air embung digunakan untuk mengairi lahan terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan air pada musim kemarau perlu juga memperhatikan luasan lahan dengan ketersediaan air yang ada didalam embung. Apakah untuk mengairi sawah atau palawija dengan memperhitungkan kebutuhan air sebagai misal untuk padi 200 mm per bulan atau 1 liter/ detik /Ha. Disamping itu juga perlu diperhatikan jika embung juga untuk persediaan minuman ternak 

2. Pengairan padi dan palawija Pengairan dari embung untuk padi dan palawija tidak sepenuhnya menggunakan air, hanya dilakukan pada saat kritis, yaitu pada fase primordial (bunting), Pembungaan dan pengisian gabah. Saat ini air disalurkan ke petak pertanian bisa menggunakan selang plastic hingga kondisi tanah jenuh air. Untuk tanaman palawija caranya dengan menyiram seputar pangkal tanaman, mengingat ketersediaan air di embung terbatas. Sebaiknya perlu diketahui kebutuhan dari masing-masing jenis palawija akan air per musim atau per hektarnya 

3. Peternakan. Pada musim kemarau ada kalanya sulit untuk mendapatkan air untuk minuman ternaknya dan harus diangkut dari tempat yang jauh. Dengan adanya air embung ini dapat digunakan untuk memberi minuman ternaknya 

4. Perikanan Khusus dibidang perikanan embung ini dapat dimanfaatkan pada musim hujan maupun musim kemarau, dengan catatan untuk musim kemarau ketersediaan air harus cukup. Beberapa factor penting yang perlu diperhatikan jika embung digunakan untuk pemeliharaan ikan adalah ; Curah hujan, penguapan, Tekstur tanah, Kontruksi kolam dan mutu air yang ada diembung. Untuk mutu air sendiri perlu juga diperhatikan. Oksigen terlarut dan Ammonia, jenis ikan untuk embung perlu dipilih yang tepat dan sesuai dengan kondisi embung. Yang pada dasarnya serba terbatas, yaitu air yang menggenang, jenis ikan yang cocok, yaitu Gurame , Mujair, Tawes, lele. Untuk pakannya dapat berupa dedak, sisa makanan atau pellet serta tanaman-tanaman seperti daun talas. 

 V. PEMELIHARAAN EMBUNG. 

Pemeliharaan embung perlu dilakukan agar tetap bermanfaat dan terhindar dari kerusakan dini Pemeliharaan ini antara lain dapat dilakukan sebagai berikut: 

• Pemagaran embung dengan bambu atau pagar hidup 
• Pengangkatan lumpur yang dilakukan pada musim kemarau atau ketika volume air sudah minimal dan tidak digunakan. 
• Perbaikan embung terutama untuk bagian dinding tanggul jika terjadi kerusakan segera diperbaikai agar tidak berlarut –larut dan bertambah parah. 
• Untuk mencegah jebolnya tanggul, usahakan agar air tidak melimpah dipermukaan tanggul 
• Usahakan tidak menggembalakan, memandikan dan memberikan minuman ternak diatas tanggul maupun masuk kedalam area embung. 
• Untuk menekan kehilangan air karena penguapan dapat dilakukan penanaman sebagai berikut. 
o Anjang-anjang atau tanaman penutup/ peneduh dimana tiang anjang dibuat dari anyaman bambu. 
o Pada anjang-anjang yang dibuat ini dijalarkan tanaman merambat yang bermanfaat seperti tanaman kecipir, markisa, gambas, yang juga berfungsi sebagai penutup permukaan air. 
o Pohon penahan angin juga diperlukan disekitaar embung seperti pohon buah-buhan atau rumput-rumputan untuk pakan ternak. Demikian teknologi pembuatan embung dan manfaatnya bagi masyarakat tani, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi petani atau masyarakat yang memerlukannya. (mnr) 

sumber : http://bpkaliori.blogspot.com/2013/04/teknologi-pembuatan-embung-dan.html
sumber gambar : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/13386808991690530159.jpg

KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta
Posted by Unknown On 04.18
Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2013 yang telah tergelar Minggu (10/11) di Halaman Kantor Kec.Turi Sleman, kegiatan ini di prakarsai Kotapadi Flona Turi , didukung BLH DIY.

Kegiatan yang menjadi perhatian khusus Penghageng Keraton Yogyakarta GBPH. Prabukusumo ini dan juga pelindung kegiatan, merupakan momen yang tepat untuk melestarikan Puspa dan satwa di Lereng Merapi, dengan BLH DIY menggandeng Kotapadi Flona Turi, wadah anak muda yang peduli Alam sekitarnya dan dukungan Pemerintah desa maupun kabupaten yang dapat mengeluarkan peraturan larangan perburuan liar di sana.

“Sarasehan Flora Fauna salah satu kegiatan yang diminati masyarakat sekitar Turi, disertai Lomba Suara Alam Burung Istimewa memperebutkan Piala Wagub DIY, BLH DIY dan Prabukusumo Cup, untuk kelas Anis Merah Istimewa, jenis ini merupakan Burung asal Lereng Merapi, dimana angka populasinya saat ini telah memprihatinkan” kata Pembina Kotapadi Flona, Baroto Hartoto

Ditambahkan Kepala BLH DIY, Ir. Joko Wuryantoro,MSi didampingi Lulu D. Budihardjo Pemrakarsa Kegiatan,  bahwa kegiatan BLH dengan Kotapadi Flona merupakan kerja awal yang baik dan mengena pada sasaran, tahun yang akan datang perlu di kemas kembali kegiatan tentang Lingkungan Hidup yang lebih besar, dalam kegiatan Hari Cinta Puspa dan Satwa ini Kami menyempatkan untuk menanam Pohon-pohon tergolong langka, Pelepasan puluhan aneka burung dan penyerahan Plang Himbauan “Puspa dan Satwa Sahabat Kita Bersama, “STOP” Kepunahannya”

KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta 
Posted by Unknown On 04.11
Posting berikut adalah review program kegiatan 2012 Kotapadi

Pada Minggu 10 Juni 2012, tepat pukul 10.30 WIB di Lap. Agrobis Pules Turi Sleman, Pemandu acara Joko Purwoko mengenakan surjan Yogyakarta lengkap membuka kegiatan ini dihadapan tamu undangan seperti GBPH. Yudhaningrat dan B.Ray Yudhaningrat serta Farhan Harim (DPRD Sleman), Tatag Swasana (Kacab Asuransi Jasaraharja Putera DIY), Muspika Turi, Rukun Tangga Surodadi dan Pules. Dilanjutkan sambutan oleh Ketua Pelaksana M. Arif SB dan kemudian sambutan Camat Turi Ibu Dra. Endang Widowati. Acara seremoni di lakukan penyerahan Piala Yudhaningrat dari Gusti Yudho (Panggilan akrabnya) kepada Ketua Pelaksana/Ketua Kotapadi dan di susul kemudian Pelepasan 10 ekor burung “Untukmu Merapi”, burung jenis perkutut, derkuku, pleci, kutilang dan crocokan. Dan semua peserta saat mendaftar mendapatkan Nescafe serta mendapatkan asuransi kecelakaan dari berangkat hingga pulang oleh Asuransi Jasaraharja Putera (Program ini baru kali pertama dalam Kontes Burung) dan peserta maupun pengunjung turut menikmati minuman dingin gratis dari salah satu produk Milo.

pelepasan burung bsm GBPH Yudhaningrat beserta muspika turi
Tepat pukul 11.00 WIB, Gusti Yudho menggantangkan Burung pleci nomor 9, pertanda Kontes Pleci Bintang Kotapadi dimulai, dan Pemenang I di raih oleh Pleci Yogyakarta. Durasi Kontes di setiap Kelas, sekitar 15 menit. Umumnya Kontes Burung selalu ramai dengan teriakan peserta, akan tetapi Kontes kali pertama ini tidak satupun Peserta yang berteriak. Artinya Kotapadi dapat merubah image kontes Burung pada umumnya. Dalam  kelas Love Bird Panitia membatalkan, mengingat jumlah peserta jauh dibawah target yang ditentukan . Dan peserta tersebut dapat memakluminya. 

Kelas Pleci di bagi beberapa kelas dengan nama kelas adalah Pleci Bintang kotapadi Jumlah 46 ekor, Pleci kotapadi 57 ekor, Pleci Merapi jumlah 58 ekor dan Pleci Merbabu jumlah 60 ekor, serta Kelas Gelatik, Kacer dan Punglor cukup diminati peserta.

Tepat pukul 13.30 WIB pembagian Piala, Piagam dan Hadiah untuk pemenang dinyatakan selesai dan ditutup langsung oleh Ketua Kotapadi.

Dalam kegiatan ini dukungan partisipasi datang serta Ucapan Terima Kasihpun disampaikan Kepada :  GBPH. H. Yudhaningrat, Sri Purnomo (Bupati Sleman), Farhan Harim (DPRD Sleman), Muspika Turi,  KB.Gembira Loka, Pt.BPR Mataram Mitra Manunggal Yogyakarta, Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Pt.Sumber Pangan Gisindo Yogyakarta, Resto Kampung Labasan Pakem,  Pt. Studio A Bantul, Pt. Jasa Raharja, Pt Asuransi Jasaraharja Putera Yogyakarta,  Pt Sumber Baru Yamaha Mbesi Kali Urang, Pt Radio Retjo Buntung Grup, Pt Bimo Transportasi Indonesia,  Dr. Bambang Gunawan Budi (Jakarta), Fori Suwargono (IT Jateng), Hengki Bird Fam Bandung, Suradi Surokusumo (Jakarta), Wigid Hadikusumo (Pengusaha DIY), Syarif Hidayatullah (Hipmi Sleman), Roy (Pengusaha DIY) dan Jogja TV.

Demikian Laporan kegiatan ini disampaikan sesuai apa yang di laksanakan oleh Kepanitiaan di Lapangan, selama masa kerjanya yang dimulai sejak tanggal 12 April 2012 hingga hari pelaksanaan kegiatan, dengan baik, lancar dan sesuai harapan semua pihak.

Semoga kegiatan positif ini dapat dilaksanakan di tahun – tahun yang akan datang, semoga Allah SWT selalu meridhoiNya..Amin.

KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta 


Posted by Unknown On 03.46

Kegiatan Puncak Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2014 Tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini terselenggara pada hari Minggu tanggal 16 November 2014 dan dilaksanakan bertempat di Rest Area MbunderPlayenGunungkidul.

Kesuksesan rangkaian kegiatan ini tidak lepas dari kerjasama yang baik antara PEMDA DIY yang dalam hal ini diwakili Badan Lingkungan Hidup DIY, Kementrian Lingkungan Hidup RI melalui Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa (PPEJ), PEMDA Kabupaten Gunungkidul melalui Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KAPEDAL) Gunungkidul dan Komunitas Pecinta dan Peduli Flora-Fauna Lereng Merapi (KOTAPADI FLONA Lereng Merapi) selaku pelaksana teknis kegiatan.

penanaman pohon oleh Kepala BLH
Acara dibuka pada pukul 09.00 WIB dengan dibacakannya sambutan oleh Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Bapak Didik Purwadi yang mewakili wakil gubernur DIY dan ditandai dengan penanaman beberapa jenis pohon langka, pelepasan satwa burung dan penyerahan hadiah lomba kampung hijau tingkat DIY.



Adapun rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan tersebut adalah sebagai berikut :


1. Ikrar Cinta Puspa dan Satwa oleh Komunitas Pecinta dan Peduli Flora-Fauna Lereng Merapi (KOTAPADI FLONA Lereng Merapi)

2. Penyerahan Pohon Cemara Udang kepada kelompok Darwis Pantai Nguyahan, Ngobaran, Saptosari, Gunungkidul sebanyak 275 pohon dan Pupuk.

3.  Penanaman 4 jenis pohon langka secara simbolis untuk dilestarikan yaitu: Pronojiwo, Timoho, Wuni dan Pucung/Kluwak.

4.     Pelepasan empat jenis satwa burung yaitu : Pleci, Trothokan, Kutilang dan Pipit/Emprit

5.     Aksi Bersih Lingkungan oleh WWF Yogyakarta

6. Cerdas Cermat dengan Tema Lingkungan Hidup tingkat SMP dan SMA se Kabupaten Gunungkidul
7.      Lomba Mewarnai dengan Tema Lingkungan Hidup tingkat TK/SD
8.    Kontes Seni Suara Alam Burung Istimewa dengan Tiga Kelas utama yaitu Kelas Handayani, Kelas BLH dan Kelas Kotapadi, berikut nama-nama pemenang :
A.    CucakHijau : I. Sugeng(Gunungkidul)  II. Ali (Sleman) III. Teguh (Sleman)
B.     Kenari : I.&II Indra PurbasariIII.ArifYudhi
C.     Pleci  : I. Falen (Magelang)   II. Lhek Butho Mahameru   III. Irdham (Yogya)
9.      Pameran Edukasi :
1.      Beternak Landak Albino
2.      Beternak Burung jenis Love Bird
3.      Cara memperlakukan Ular yang Benar dan Aman
4.      Pemutaran Film Kartun dengan Tema Lingkungan Hidup
5.      Perpustakaan Keliling


Dalam kegiatan ini dukungan partisipasi datang serta Ucapan Terima Kasihpun disampaikan Kepada :  GBPH. Prabukusumo beserta Muspika setempat, Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Bapak Didik Purwadi yang mewakili Wakil Gubernur DIY, Dr. Immawan Wahyudi, M.Hum selaku Wakil Bupati Gunungkidul, Para donatur : NasmocoBantul, Honda Cendana Bantul, Radio Q, RB FM, Pusaka Tour Indonesia, Bank Saudara Cabang Yogyakarta dan semua pihak yang mendukung kegiatan ini yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.  

sumber gambar : http://www.radarjogja.co.id/wp-content/uploads/2014/11/Kepala-BLH-DIJ-Joko-Wuryantoro-menanam-pohon-langka.jpg 

KOTAPADI FLONA Sleman Yogyakarta